pengalaman horor ketika mendaki gunung
pengalaman horror ini terjadi saat saya melakukan Solo Hiking. Dimana? Di Gunung K****** di daerah Wonosobo.
Pendakian ini terjadi di awal tahun 2019. Btw saya sangat suka sekali mendaki nagapoker88 ini. Setidaknya sampai tahun 2019 sudah 4x ke Gunung ini.
Perjalanan saya lakukan pada Bulan Mei 2019. Perjalanan dari Semarang pun terlihat PD dan sangat santai. Berangkat pukul 10 pagi sampai BC pukul 14.30 menit. Akses menuju jalan ini sangat mulus menurut saya.loket pembayaran sebesar 15 ribu pada saat itu. Saya mulai start trekking Pukul 15.00
Pendakian dari BC menuju Pos 1 didominasi dengan kebun teh. Jarak tempuh 1.5 jam. Trek kondisi sepi, Sangat sepi. Ditemani dengan kabut tipis. Di balik saya terdapat pemandangan kota Wonosobo danjuga hamparan kebun teh.
Di pos Istana , saya bertemu dengan 2 warga lokal. Sepasang suami istri yang beristirahat sambil merangkul kayu bakar yang diambilnya dari hutan. Dari situ saya beristirahat sejenak sambil berbincang dengan bapak itu. Bapak itu menyeletuk
“Lee, Yaopo sampean iku dewean mrene?”
“Kula badhe mendaki Pak”
“Sampean wis tau mrene Tah?”
“Nggih pak Kula sampun teng mriki beberapa kali*
“Yauwes ati ati Yo Lee. Ojo jupuk sing duduk hakmu, Ojo tinggal no sing iku dadi kewajibanmu”
“Nggih pak matursuwun”
Artinya :
“Nak, Kenapa kok kamu sendirian kesini”
“Saya mau mendaki pak”
“Kamu sudah pernah kesini”
“Ya pak sudah beberapa kali kesini”
“Yaudah hati hati ya Nak. Jangan ambil apapun yang bukan hakmu. Jangan tinggalkan apapun yang jadi kewajiban mu”
Saya anggap itu adalah obrolan ringan semata. Jam menunjukan pukul 17.00 dan sudah memasuki pintu rimba. Didepan pintu rimba terdapat bacaan Basmallah dan shalawat. Kabut tipis ditambah pintu rimba yang gelap membuat bulu kuduk merinding. Sebelum masuk pintu rimba saya berdoa dan pasrah.
Sebelum saya memasuki pintu rimba ada hal yang mengagetkan. Asli bikin bulu kuduk merinding. Saya melihat Bapak Ibu tadi turun dari atas menuju pintu rimba. Kaki saya tiba tiba lemas lalu saya bertanya “Bukannya bapak sudah sampai Pos1?”
“Kamu siapa ya nak?”
“Saya yang bertemu bapak tadi di Pos1”
“Ngawur kamu nak , itu motor saya di bawah situ. Maaf ya nak saya harus turun karena sudah sore”
Setelah itu sepasang Suami Istri itu berboncengan dengan motor Supra yang sudah mereka modif. Menuju ke perkampungan warga. Dan saya melanjutkan perjalanan dengan rasa was was.
*Allahuakbar Allahuakbar…
Tanda adzan Maghrib tiba. Di dalam kegelapan hutan saya menyalakan headlamp dan istirahat sejenak. Asli merinding dan saya menyesal sendirian dalam kegelapan hutan ini. Setelah azan selesai saya langsung tancap gas lagi.
Waktu menunjukan pukul 18.45. Saya mendengar suara riuh.. dalam hati “Anjir apa ini?” Sambil menengok kanan kiri atas. Ternyata diatas pos 1 ada lampu. Saya langsung tancap gas dan akhirnya sampai Pos 1. Di Pos 1 itu saya bertemu dengan 3 orang Pendaki bernama Bimo, Yus, dan satu wanita lagi Risna. Mereka adalah pendaki asal Wonosobo. Warga lokal ternyata, untunglah saya tidak jadi sendiri.
Setelah 15 menit berisitirahat saya bersama 3 orang pendaki itu berlanjut. Bimo menyeletuk
“Loh mas, sendirian tah?”
“ Iya mas, dari bawah sendiri “
“ Loh. Saya tadi lihat banyak lampu di belakang mas nya. Saya kira mas berombongan makanya saya tungguin “
“ Wah mas itu mengada ada. Saya itu… “
Tiba tiba angin syahdu menerpa wajah kami dan dibarengi dengan bunga melati. Seketika hening
Dalam hati
*Anjir mati aku cuk kalau gini*
Akhirnya tanpa sepatah kata pun kami melanjutkan perjalanan. Sampai Pos 2 pukul 19.30 menit. Tanpa istirahat kita langsung menuju pos 3 . Karena memang di Pos 2 agak kurang enak tempatnya untuk beristirahat.
Jalan semakin menanjak. Kami hanya mengandalkan alat penerangan headlamp. Dan tidak bisa terburu buru. Mendaki lebih tinggi. Lebih tinggi. Sampai kami bertemu dengan Pos 3 di jam 20.10.
Dari atas Puncak terdengar suara samar samar seperti kemerincingan yang sangat ramai namun berirama.
*Krincing… *Krincing… Krincing…
Semakin dekat. Semakin dekat. Semakin dekat. Sampai suara itu melewati kami. Kami hanya berdiam dan menutup mata. Saya hanya bisa melihat Risna yang berlinangan air mata sambil menggenggam lengan nagapoker88.
Saya hanya mempunyai keputusan . Turun atau terus berlanjut. Kalau turun saya pasti bertemu suara kemerincing itu lagi. Jadi sudah kami putuskan untuk lanjut. Dengan deg degan yang amat sangat. Saya melanjutkan perjalanan bareng Yus, Bimo, dan Risna.
Melewati Sabana ( Sabana apanya ) . Dengan trek terjal 60° saya naik . Terus naik. Akhirnya jam 21.00 saya sampai Puncak Gunung. Tidak ada siapapun hanya kami berempat.
Kami membangun tenda di pinggir jalur menuju Kawah mati. Kami membangun tenda 2 yang dijadikan 1. Setelahnya kami memasak. Saya memasak Bakso bumbu balado dan Nasi. Dan rombongan mereka memasak mie instan kuah dengan sayur dan sosis. Hmm perpaduan yang sempurna. Haha.
Setelah berbincang bincang sampai jam 10 akhirnya saya tidur….
Jam 2 dini hari ada suara yang membangunkan saya. Ternyata suara Yus. Dia berkata
“ mas mas. Sampeyan denger ga?”
“ Dengar apa mas?”
“Iku suara Krincing yang tadi”
“Iyo yus. Yus tolong temani saya ke tenda sini”
“Akhirnya saya bertenda dengan Yus”
Bagaimana nasib Bimo dan Risna. Masabodo wkwk karena saya ketakutan.
*Krincing.. *Krincing.. *Krincing..
Suara itu diiringi dengan suara nagapoker88 dibelakangnya dan beberapa derap langkah kaki beriringan. Suasana gelap gulita dengan angin kencang. Suara itu menjauh menuju kawah Gunung mati. Saya dan yus menutup sleeping bag dan pura pura tidak dengar.
.
.
Pagi pun tiba. Saya pun membangunkan Yus.
“Yus yus. Keluar Yok. Sudah pagi ini”
“Beneran mas”
“Iyoo. Ayok kita bangunkan Bimo dan Risna juga”
Setelah saya membuka tenda dan membangunkan Bimo dan Risna akhirnya saya membuka flysheet. Saya tidak menyangka saya bisa melewati malam mencekam itu. Pukul 05.30 Dengan matahari terbit dan awan berada dibawah kita.
Dengan secangkir kopi di tangan. Saya hanya bisa mengucapkan syukur. Tuhan, ini adalah anugerah terindah.
Lalu kami masak untuk sarapan pagi dan jam 9 pagi kami turun Gunung. Perjalanan turun tidak ada kendala apapun dan gangguan apapun. Untungnya.
Ini adalah foto Risna. Dengan view Gunung di Wonosobo.
Disclaimer : Semua nama dalam tokoh tersebut disamarkan karena beliau beliau tidak mau dipublikasikan.
Itu cerita pendakian horor saya. Sekian.

Komentar
Posting Komentar